Senin, 28 Maret 2011
Kesesakkan
A. Pengertian Kesesakkan
Kesesakkan adalah suatu proses interpersonal pada suatu tingkatan interaksi manusia satu dengan yang lainnya dalam suatu pasangan atau kelompok.
Baum dan Paulus (1987) menerangkan bahwa proses kepadatan dapat dirasakan sebagai kesesakan atau tidak dapat ditentukan oleh penilaian individu berdasarkan 4 faktor :
1. Karakteristik seting fisik
2. Karakteristik seting social
3. Karakteristik personal
4. Kemampuan beradaptasi
Stokols (dalam Altman 1975) membedakan antara kesesakan bukan social (nonsocial crowding) yaitu dimana faktor – faktor fisik menghasilkan perasaan terhadap ruang yang tidak sebanding, seperti sebuah ruang yang sempit, dan kesesakan social (social crowding) yaitu perasaan sesak semula – mula datang dari kehadiran orang lain yang terlalu banyak. Stokols juga menambahkan perbedaan antara kesesakan molar (molar crowding) dan kesesakan molekuler (moluceler crowding).
1.Kesesakan Molar : perasaan sesak yang dapat dihubungkan dengan skala luas, populasi penduduk kota.
2.Kesesakan Molekuler : Perasan sesak yang menganalisis mengenai individu, kelompok kecil dan kejadian – kejadian interpersonal.
B.Teori – Teori Kesesakan
Menurut Hollahan (1982) untuk menerangkan terjadinya kesesakan dapat digunakan tiga model teori, yaitu :
a. Teori Beban stimulus
Schmidt dan Keating (1979) mengatakan bahwa stimulus disini dapat berasal dari kehadiran banyak orang beserta aspek – aspek interaksinya, maupun kondisi – kondisi fisik dari lingkungan sekitar yang menyebabkan bertambahnya kepadatan sosial. Berlebihnya infornasi dapat terjadi karena beberapa faktor, sepert
a) Kondisi lingkungan fisik yang tidak menyenangkan
b) Jarak individu (dalm arti fisik) yang terlalu dekat
c) Suatu percakapan yang tidak dikehendaki
d) Terlalu banyak mitra interaksi
e) Interaksi yang terjadi dirasa terlalu dalam atau terlalau lama
b. Teori Ekologi
Micklin (dalam Prabowo, 1998) mengemukakan sifat – sifat umum model ekologi pada manusia. Pertama teori ekologi perilaku memfokuskan pada hubungan timbale balik antar orang dengan lingkungan. Kedua, unit analisisnya adalah kelompok sosial dan bukan individu, dan organisasi sosial memegang peranan yang sangat penting. Ketiga, menekankan pada distribusi dan penggunaan sumber – sumber material dan sosial.
Wicker (dalam Prabowo, 1998) mengemukakan teorinya tentang manning, teori ini terdiri dari atas pandangan bahwa kesesakan tidak dapat dipisahkan dari faktor setting dimana hal itu terjadi, misalnya pertunjukkan ketoprak atau pesta ulang tahun.
Analisis terhadap setting menurut Wicker (dalam Prabowo, 1998) meliputi :
1. Maintenance minimum,
Yaitu jumlah minimum manusia yang mendukung suatu setting agar suatu aktivitas dapat berlangsung. Contoh bila suatu ruang tidur ukuran 4 x 3 meter biasa dipakai oleh anak – anak supaya tidak terlalu sesak dan tidak terlalu longgar.
2. Capacity
Jumlah maximum penghuni yang dapat ditampung oleh seting tersebut (jumlah orang yang akan duduk diruang tamu bila sedang dilaksanakan hajatan).
3. Applicant
Jumlah penghuni yang mengambil bagian dalam suatu seting. Applicant dalam seting rumah dapat dibagi menjadi dua, yaitu :
a) Performer, yaitu jumlah orang yang memegang peranan utama, dalam hal ini suami – istri.
b) Non – Performer, yaitu jumlah orang yang terlibat dalam peran – peran sekunder, dalam hal ini anak – anak atau orang lain dalam keluarga.
c. Teori Kendala Perilaku
Menurut teori ini, suatu situasi akan dianggap sesak bila kepadatan atau kondisi lain yang berhubungan dengannya membatasi aktivitas individu dalam suatu tempat.
Menurut Sears dkk (1988) tentang teori rasa sesak manusia dibagi menjadi tiga yaitu : beban indra berlebihan, intensitas kepadatan, hilangnya kendali.
a) Beban indra yang berlebihan
Migram (dalam Sears, 1998) menyatakan bahwa bila orang dihadapkan pada stimulus yang terlalu banyak, dia akan mengalami beban indra yang berlebihan dan tidak akan dapat menghadapi semua stimulus itu.
b) Intensitas kepadatan
Menurut Fredman (dalam Sears, 1998) menjelaskan bahwa kepadatandapat menguatkan reaksi yang umum terhadap situasi sosial. Sebagaimana peningkatan volume gramofom dapat memperkuat reaksi kita terhadap music, demikian juga peningkatan kepadatan dapat memperkuat reaksi terhadap orang lain.
c) Hilangnya kendali
Kepadatan tinggi bisa menyebabkan orang merasa kurang memikirkan terhadap tindakannya sehingga menimbulkan perasaan sesak ( Baron & Rodin dalam Sears dkk, 1998). Pengendalian berkaitan erat dengan kemampuan untuk memprediksi situasi yang akan terjadi dan dalam kondisi kepadatan tinggi, orang mungkin mengganggu aktifitas orang lain sehingga menimbulkan perasaan frustasi dan marah (Schopler & Stockdale dalam Sears, 1992).
Telah jelas dikatakan bahwa kesesakan merupakan persepsi dari kepadatan.
C. Aspek – aspek kesesakan
Zlutnick dan Altman (dalam Heimstra & McFarling, 1978) mengemukakan aspek – aspek yang berhubungan dengan kesesakan. Aspek – aspek tersebut dibagi dalam tiga aspek, yaitu :
a. Aspek situasional
Yaitu faktor – faktor yang berhubungan dengan situasi tertentu, misalnya jumlah orang perunit rumah, jumlah orang di luar rumah, karakteristik tempat (seperti tipe kamar) dan lain – lain.
b. Aspek interpersonal
Yaitu kemampuan seseorang untuk mengendalikan interaksi dengan berbagai cara, antara lain mengunci diri dalam ruangan untuk menghindari interaksi dengan orang lain.
c. Aspek psikologis
Yaitu bahwa pengalaman masa lampau dan kepribadian seseorang merupakan hal penting dalam menentukan apakah kesesakan dialami dalam situasi tertentu.
D. Faktor yang mempengaruhi kesesakkan :
1. Faktor Personal, terdiri dari kontrol pribadi & budaya
2. Faktor social, secara personal individu lebih banyak mengalami kesesakkan di pengaruhi karaktristik yang sudah dimiliki.
3. Faktor Fisik, kesesakkan dalam rumah dipengaruhi faktor fisik.
E. Pengaruh kesesakkan terhadap perilaku
Aktivitas seseorang akan terganggu oleh aktivitas yang lain, gangguan terhadap norma tempat dapat meningkatkan gejolak dan ketidaknyamanan.
Pengaruh negatif kesesakkan tercermin dalam bentuk penurunan psikologis, fisiologis, dan hubungan sosial individu.
F. Faktor-faktor Penyebab
Menurut Altman kondisi kesesakkan yang ekstrim akan timbul bila faktor-faktor dibawah ini muncul secara simultan :
1. Kondisi-kondisi pencetus, terdiri dari tiga faktor :
a. Faktor-faktor situasional
b. Faktor-faktor personal
c. Kondisi interpersonal
2. Serangkaian faktor-faktor organismik dan psikologis seperti stre, kekacauan pikiran, dan perasaan kurang enak badan.
3. Respon-respon pengatasan, yang meliputi beberapa perilaku verbal dan non verbal yang tidak efektif dalam mengurang stress atau dalam mencapai interaksi yang diinginkan dalam jangka waktu yang panjang atau lama.
G. Akibat dari kesesakan
Brigham (1991) menjelaskan beberapa akibat negative kesesakkan menjadi beberapa bagian :
1. Pelanggaran terhadap ruang pribadi dan atribusi seseorang yang menekan perasaaan yang disebabkan oleh kehadiran orang lain.
2. Keterbatasan perilaku, pelanggaran privasi dan terganggunya kebebasan memilih
3. Control pribadi yang kurang.
4. Stimulus yang berlebih.
H. Contoh Perilaku Nyata
Adanya sejumlah orang yang berdesak-desakkan untuk menunggu pemberian sedekah.
Kepadatan
- Pengertian Kepadatan
Kepadatan merupakan masalah bagi setiap negara di dunia terutama negara-negara berkembang umumnya, dan Indonesia khususnya. Pertambahan penduduk secara besar-besaran mengakibatkan berbagai masalah. Seperti kurangnya lapangan pekerjaan yang mengakibatkan peningkatan kejahatan. Selain itu kepadatan menurut sebuah survey turut memberikan kontribusi terhadap peningkatan agresifitas.
Kepadatan memiliki arti hasil bagi jumlah objek terhadap luas daerah. Dengan demikian satuan yang digunakan adalah satuan/luas daerah. Sedangkan ada yang berpendapat bahwa kepadatan adalah jumlah rata-rata penduduk yang mendiami suatu wilayah administrative atau politis tertentu, biasanya dinyatakan dalam jiwa/Km2. Adapun rumus untuk menghitung kepadatan penduduk suatu wilayah:
Kepadatan penduduk = jumlah penduduk (jiwa) / Luas wilayah (km2)
Kepadatan adalah hasil bagi jumlah objek terhadap luas daerah. Dengan demikian satuan yang digunakan adalah satuan/luas daerah, misalnya: buah/m2. Sebagai contoh, kepadatan penduduk disebut sebagai 65 orang/km2. Kepadatan adalah Ukuran jumlah orat per unit area.
Menurut Sundstrom, kepadatan adalah sejumlah manusia dalam setiap unit ruangan (dalam Wrightsman & Deaux, 1981). Atau sejumlah individu yang berada di suatu ruang atau wilayah tertentu dan lebih bersifat fisik (Holahan, 1982). Suatu keadaan akan dikatakan semakin padat bila jumlah manusia pada suatu batas ruang tertentu semakin banyak dibandingkan dengan luas ruangannya (Sarwono, 1992).
Hal-hal yang perlu dilakukan untuk menekan pesatnya pertumbuhan penduduk :
- Menggalakkan program KB atau Keluarga Berencana untuk membatasi jumlah anak dalam suatu keluarga secara umum dan masal, sehingga akan mengurangi jumlah angka kelahiran.
- Menunda masa perkawinan agar dapat mengurangi jumlah angka kelahiran yang tinggi.
Cara-cara yang dapat dilakukan untuk mengimbangi pertambahan jumlah penduduk :
1. Penambahan dan penciptaan lapangan kerja
Dengan meningkatnya taraf hidup masyarakat maka diharapkan hilangnya kepercayaan banyak anak banyak rejeki. Di samping itu pula diharapkan akan meningkatkan tingkat pendidikan yang akan merubah pola pikir dalam bidang kependudukan.
2. Meningkatkan kesadaran dan pendidikan kependudukan
Dengan semakin sadar akan dampak dan efek dari laju pertumbuhan yang tidak terkontrol, maka diharapkan masyarakat umum secara sukarela turut mensukseskan gerakan keluarga berencana.
3. Mengurangi kepadatan penduduk dengan program transmigrasi
Dengan menyebar penduduk pada daerah-daerah yang memiliki kepadatan penduduk rendah diharapkan mampu menekan laju pengangguran akibat tidak sepadan antara jumlah penduduk dengan jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia.
4. Meningkatkan produksi dan pencarian sumber makanan
Hal ini untuk mengimbangi jangan sampai persediaan bahan pangan tidak diikuti dengan laju pertumbuhan. Setiap daerah diharapkan mengusahakan swasembada pangan agar tidak ketergantungan dengan daerah lainnya.
- Kategori kepadatan
- Menurut Holahan (1982) yaitu :
a) Kepadatan Spasial (Spatial Density) terjadi bila besar atau luas ruangan diubah menjadi lebih kecil atau sempit sedangkan jumlah individu tetap, sehingga didapatkan kepadatan meningkat sejalan menurunnya besar ruang.
b) Kepadatan Spasial (Spatial Density) terjadi bila jumlah individu ditambah tanpa diiringi dengan penambahan besar atau luas ruangan sehingga didapatkan kepadatan meningkat sejalan dengan bertambahnya individu.
- Menurut Altman (1975) yaitu :
a) Kepadatan Dalam (Inside Density) yaitu sejumlah individu yang berada dalam suatu ruangan atau tempat tinggal seperti kepadatan di dalam rumah, kamar, dsb.
b) Kepadatan Luar (Outside Density) yaitu sejumlah individu yang berada pada suatu wilayah tertentu, seperti jumlah penduduk yang bermukim di suatu wilayah pemukiman.
- Menurut Jain (1987) yaitu :
Setiap wilayah pemukiman memiliki tingkat kepadatan yang berbeda dengan jumlah unit rumah tinggal pada setiap struktur hunian dan struktur hunian pada setiap wilayah pemukiman. Sehingga suatu wilayah pemukiman dapat dikatakan mempunyai kepadatan tinggi atau kepadatan rendah.
- Menurut Zlutnick dan Altman (dalam Altman, 1975; Holahan, 1982) menggambarkan sebuah model dua dimensi untuk menunjukkan beberapa macam tipe lingkungan pemukiman yaitu :
a) Lingkungan Pinggiran Kota, yang ditandai dengan tingkat kepadatan luar dan kepadatan dalam yang rendah.
b) Wilayah desa miskin di mana kepadatan dalam tinggi sedangkan kepadatan luar rendah.
c) Lingkungan mewah perkotaan, dimana kepada dalam rendah sedangkan kepadatan luar tinggi.
d) Pekampungan Kota ditandai dengan tingkat kepadatan luar dan kepadatan dalam yang tinggi.
- Menurut Taylor (dalam Gifford, 1982) yaitu :
Lingkungan sekitar dapat merupakan sumber yang penting dalam mempengaharui sikap, perilaku, keadaan internal seseorang di suatu tempat tinggal. Oleh karena itu individu yang bermukim di pemukiman dengan dengan kepadatan yang berbeda mungkin menunjukkan sikap dan perilaku yang berbeda pula.
- Akibat dari Kepadatan
- Secara Fisik, yaitu reaksi fisik yang dirasakan individu seperti peningkatan detak jantung, tekanan darah, dan penyakit fisik lain (Heimstra dan Mc Farling, 1978).
- Secara Sosial, antara lain adanya masalah social yang terjadi dalam masyarakat seperti meningkatnya kriminalitas dan kenakalan remaja (Heimstra dan Mc Farling, 1978).
- Secara Psikis antara lain :
a) Stres, kepadatan tinggi dapat menumbuhkan perasaan negative, rasa cemas, stress dan perubahan suasana hati.
b) Menarik diri, kepadatan tinggi menyebabkan individu cenderung untuk menarik diri dan kurang mau berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.
c) perilaku menolong, kepadatan tinggi juga menurunkan keinginan individu untuk menolong atau member bantuan kepada orang lain yang membutuhkan terutama orang yang tidak dikenal.
· Akibat-Akibat Kepadatan Tinggi
Kepadatan juga memberikan kontribusi besar terhadap psikis seseorang yang menempati suatu daerah yang padat. Banyaknya penelitian yang menyebutkan bahwa seseorang memiliki tingkat stress dan kekecwaan tinggi pada ruangan yang ditempati lebih dari kapasitas ruangan tersebut dari pada ruang yang ditempati sesuai dengan kapasitas ruangan tersebut. Akibatnya dampak fisik yang diterima inividu adalah peningkatan detak jantung, tekanan darah, dan penyakit lainnya. (Heimstra dan McFarling, 1978).
- Contoh Perilaku Nyata
Kepadatan penduduk Jakarta, atau kepadatan di pasar tanah abang pada saat menjelang lebaran.